Feb 17
MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI MELALUI PROGRAM "READING PASSPORT" SEBAGAI UPAYA MELAWAN ISU "HOAX"

MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI MELALUI PROGRAM "READING PASSPORT" SEBAGAI UPAYA MELAWAN ISU "HOAX"

oleh: Saeful Arif 


Selama kurun waktu lima tahun terakhir, isu hoax atau berita bohong sering bermunculan dengan intensitas semakin hari semakin melimpah. Disadari ataupun tidak, setiap orang yang memiliki akses untuk mengolah informasi melalui media, khususnya pada media sosial (medsos), pasti pernah mendapatkan "berita bohong" terkait isu yang merebak di kalangan masyarakat pada umumnya. Isu yang sering menjadi bahan hoax yang sering kita temukan -- setidaknya dua tahun kebelakang -- adalah soal politik. Salah satu contoh hoax terkait politik adalah upaya untuk merendahkan nama baik Presiden Republik Indonesia Bapak. H. Joko Widodo terkait keturunan dari nenek moyang seorang PKI. Bahkan, Bambang Tri Mulyono dapat mengarang sebuah buku yang disinyalir mendiskreditkan presiden dengan bukunya yang berjudul "Jokowi Undercover". Pada akhirnya, polisi dengan tanggap mempidanakan penulis buku tersebut sekira bulan Desember 2016 lalu, dengan alasan bahwa apa yang tertulis di dalam buku tersebut adalah pembohong publik dan tidak berlandaskan temuan-temuan (analisa) langsung terhadap objek buku tersebut (Jokowi dan Keluarga), disamping itu juga buku tersebut terasa tendensius dan merugikan presiden dengan pencemaran nama baik. 

Upaya-upaya seperti ini merupakan tindakan yang merugikan objek dari pemberitaan/informasi yang disampaikan dan juga merugikan para pembaca dan masyarakat umum. Dengan adanya berita bohong, masyarakat menjadi resah dan memungkinkan terjadinya perpecahan antar warga, suku maupun ras. 

Berita bohong (hoax) banyak beredar di kalangan masyarakat melalui media sosial. Cara menganalisa berita bohong atau benar bisa dimulai dengan mudah, biasanya berita hoax berisikan isu-isu yang bersifat provokatif dan kontroversial. Jika kita menemukan sebuah berita, baiknya kita meninjau terlebih dahulu judul pemberitaan. Judul berita bohong/palsu biasanya didasarkan pada opini dan bukan fakta. Langkah selanjutnya, yang perlu diperhatikan bahwa berita bohong biasanya dicantumkan pada situs yang kurang terpercaya dan gratisan, karena berita tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan, setiap orang dapat memposting tulisan atau berita tanpa harus mempertanggungjawabkannya. Sebagai media online yang kredibel, tentu tidak mungkin menggunakan layanan gratis sebagai media untuk mempublikasikan berita. Selain dua cara tersebut, pembaca bisa menganalisa berita apakah fakta atau opini. Berita yang benar bukan berdasrkan opini, melainkan fakta yang terjadi di lapangan, kemudian dilaporkan dalam sebuah berita yang berlandaskan kejadian sebenarnya, sedangkan opini tentu belum sepenuhnya bisa dibenarkan. 

Langkah lain yang dapat ditempuh untuk menganalisa beritu yaitu dengan mengomparasikan berita satu dengan yang lainnya, carilah sumber berita yang terpercaya, misalnya dengan mengomparasikan berita tersebut dengan media nasional yang sudah terkenal dan kredibel. Selain itu, masih banyak langkah lain untuk mengetahui sebuah berita itu bohong/palsu atau benar, intinya kita tidak “menelan mentah-mentah” informasi yang kita terima.

Berita bohong dapat dengan mudah beredar di kalangan masyarakat. Salah satu media yang sering kita temukan sebagai alat untuk menyebarkan berita bohong adalah media sosial. Sejak munculnya media sosial sebagai jejaring komunikasi vertikal antar personal dan golongan, media sosial menjadi opsi pertama untuk dijadikan alat untuk menyampaikan pesan. Semakin hari, media sosial berkembang dengan segala kebutuhan para pengguna. Yang populer di kalangan masyarakat diantarnya adalah Facebook, Twitter, Whatsapp dan lain-lain. 

Media sosial menjadi alat komunikasi yang banyak digunakan oleh masyarakat dalam berkomunikas saat ini. Maraknya smartphone yang beredar di pasaran dan dapat dimiliki dengan harga murah, memudahkan masyarakat untuk mengakses media sosial. Di kalangan remaja umumnya, smartphone menjadi sebuah kebutuhan primer selain makanan dan minuman. Tiada hari tanpa smartphone, bahkan ada istilah bahwa smartphone adalah separuh jiwa seseorang, jika smartphone tertinggal atau hilang, seakan separuh jiwa pemilik smartphone tersebut juga ikut hilang. Smartphone atau telepon pintar memungkinkan penggunanya dapat mengakses secara maksimal apa yang dibutuhkan dalam berkomunikasi dan mencari informasi. Tidak sedikit pekerjaan kantor dapat diselesaikan melalui smartphone, diantaranya emaling, Database editing, Video editing dan lain sebagainya. 

Smartphone memudahkan kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga untuk melakukan sebuah pekerjaan pada sistem komputer, mengadakan pertemuan (gathering), berkomunikasi langsung (tatap muka) dan sebagainya, sekarang mulai perlahan dapat dilakukan hanya dengan menggunakan smartphone. Selain smartphone menjadi alat yang simple, juga memudahkan pengguna, membuat waktu efisien dan tenaga lebih sedikit, karena dengan smartphone pekerjaan yang membutuhkan komputer seperti office work, data editing, emailing, searching dapat dikerjakan dengan smartphone. Contoh keuntungan lainnya, seperti pekerjaan yang membutuhkan waktu, tenaga juga tempat, sekarang bisa dilakukan dengan smartphone, misalnya mengadakan rapat secara virtual (virtual meeting). 

Smartphone memiliki keunggulan yang sangat banyak. Namun, diantara kelebihan tersebut, smartphone juga dapat dijadikan alat untuk kegiatan-kegiatan yang menyimpang, seperti: mengakses situs non-edukatif, membuat berita atau informasi bohong dan lain sebagainya. Kehadiran media sosial sangat membantu masayarakat dalam berkomunikasi, namum disamping itu, kehadiran media sosial juga bisa menjadi “ancaman” terutama pada hal penggunaan media sharing berita atau informasi yang tidak dapat dibendung. Ini mengakibatkan banyaknya informasi yang didapat pengguna smartphone sangat berpariasi. Mulai dari informasi positif, sampai dengan berita negatif atau berita bohong/palsu. 

Remaja, khususnya pelajar dan mahasiswa adalah pengguna smartphone aktif terbanyak. Menurut analisis Lembaga Riset Digital Marketing Emarketer yang dikutip dari Kominfo (www.kominfo.go.id) memperkirakan bahwa pengguna smartphone di Indonesia pada tahun 2018 akan melebihi 100 juta orang. Dengan ini, jika sesuai prediksi, maka Indonesia menjadi negara dengan pengguna smartphone aktif terbanyak keempat di dunia setelah Cina, India dan Amerika. 

Upaya pemerintah menanggulangi masalah hoax yang beredar di kalangan masyarakat terutama melalui media sosial terus dilakukan dengan beberapa program diantaranya adalah mengedukasi masyarakat tentang bahaya hoax, melayani aduan masyarakat, mendukung gerakan "Turn Back Hoax", bekerjasama dengan Masyarakat Telekomunikasi (Mastel) dengan menciptakan aplikasi "anti hoax" kemudian ditindaklanjuti oleh Kominfo dan seterusnya. 

Selain tanggung jawab pemerintah, persoalan terkait penanggulangan berita bohong di kalangan masyarakat adalah juga tanggung jawab masyarakat bersama. Masyarakat harus turun andil dalam menghentikan praktik pembohongan publik dengan tidak mambuat dan atau menyebarkan berita bohong. 

Di kalangan pelajar, ada sebuah gagasan yang sangat penting sebagai salah satu solusi yang ditawarkan untuk mereduksi isu hoax beredar di kalangan pelajar dan juga masyarakat akademik, yaitu dengan menumbuhkan budaya literasi melalui program "reading passport". Hal ini dirasa sangat membantu siswa dalam mempersiapkan dirinya untuk menganalisis informasi yang mereka dapatkan dari berbagai sumber agar tidak terpengaruh berita bohong.

Ada sebuah istilah pesantren yang menjadi salah satu gerakan positif berkembangnya budaya literasi ini yaitu tabayyun (diambil dari bahasa Arab, yang memiliki arti mencari penjelasan). Para siswa diajarkan untuk tabayyun ketika mendapatkan sebuah informasi baik melalui buku, media cetak maupun media elektronik. 
  
Reading Passport adalah program terstruktur di luar jam belajar formal. Dimana siswa diwajibkan untuk membaca beberapa buku dalam kurun waktu tertentu. Disamping membaca, siswa juga diwajibkan untuk meriview bacaan mereka dan menuliskan dalam sebuah tugas akhir dari program reading passport. Selain itu, para siswa juga diajarkan untuk melakukan diskusi atas bacaan mereka. Aplikasi dari bacaan tersebut dapat berupa majalah dinding, majalah sekolah atau bahkan menjadi referensi utama saat melakukan riset.

Program ini diprediksikan akan berdampak positif untuk melawan peredaran berita bohong di kalangan masyarakat akademik, karena siswa dilatih untuk berpikir dan menganalisis persoalan kemudian mencari referensi-referensi terkait, sehingga didapatkan kesimpulan bahwa berita tersebut benar atau salah. Cara pandang dan kemampuan analisis merupakan hal yang sangat efektif dalam menyikap tabir kebohongan sebuah berita. Siswa dibekali kemampuan berpikir positif dan meneliti setiap bacaan sebelum mereka jadikan sebuah rujukan/referensi informasi yang mereka sebarkan kepada orang lain. 

Budaya literasi di sekolah merupakan hal yang seharusnya. Jika sebuah lembaga pendidikan tidak menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah, maka sekolah tersebut tidak layak untuk dijadikan sebuah tempat untuk mencari ilmu. Tentu di setiap tingkatan (grade) memiliki program dan terapan literasi yang berbeda-beda, disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kesadaran masyarakat akademik yang ada di lembaga tersebut. 

Jika seluruh lembaga pendidikan melakukan gerakan literasi baik dari sesuatu yang sederhana seperti membaca dan menulis materi pelajaran sampai dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan yang penuh dengan pentingnya literasi tumbuh subur di sekolah, diantaranya adalah mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan perpustakaan sekolah atau perpustakaan pribadi setiap kelas, menyediakan waktu baca dan menulis selain pelajaran, membuat majalah dinding, membuat majalah sekolah (cetak) dan lain sebagainya. Maka, hoax atau berita bohong akan hilang perlahan namun pasti. 

Masyarakat yang pintar tidak akan melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan satu sama lain. Generasi selanjutnya tidak akan termakan dengan informasi palsu karena sudah ada di dalam dirinya kemauan dan kemampuan untuk melawan sesuatu yang merugikan dirinya dan juga orang lain, diantaranya dengan menumbuhkan budaya literasi: membaca, menulis dan menganalisa informasi yang didapatnya melalui berbagai media. 


Wallahu A’lamu bi al-Showab.....



Feb 14
Melepas Kepergian

Melepas Kepergian
 
Aksan Taqwin Embe
 

Januari segera berlalu. Maka dari itu aku mencatat kapan harus menemui suamiku. Aku harus segera melaju menebus rindu setelah ia pergi tiga puluh tiga purnama yang lalu. Aku selalu sedih ketika berganti kalender baru. Banyak tanggal-tanggal ganjil yang kulingkari sebagai pengobat memoar kesendirian. Ada yang tahu di mana stasiun yang melajukan kereta menebus rindu?  
Aku dengar Jakarta kini dalam keadaan sunyi, kota paling sepi. Semenjak kejadian kebakaran—bus fasilitas negara yang dianggap sudah tidak layak, kota itu cekam mendadak. Namun pagi ini aku tetap memutuskan pergi kembali ke kota itu. Kota yang dianggap paling biadab urusan lalu lintas dan kejahatan. Kota yang menjadi permulaan pertemuanku dengannya. Kota menyimpan kenangan awal yang dilumpuhkan asap dan deruan klakson kendaraan. Biarlah, aku mencecap kembali kenangan ini. Kenangan yang mengguncangkan hati dalam tiga puluh tiga purnama tiada henti.
Ketika itu ia datang dengan muka tergesah. Matanya lekat dengan airmata. Ia memutuskan pergi merantau ke Jakarta sebagai pelebur bunga di sebuah pabrik parfum milik karib bapaknya. Mungkin ia lupa dengan janjinya, atau abai pada hantaran lekat bibirku ke keningnya. Hingga saat ini ia belum kembali. Belum sempat menebus janji.
Aku masih menunggunya, barangkali ia datang sebelum senja memecah menjadi malam yang menggulita. Meskipun komunikasi melalui telepon masih berjalan. Kiriman nafkah bulanan selalu lancar. Lalu bagaimana soal kebutuhan rohani yang tak pernah digenapi? Saat itulah aku mulai menganggap bahwa cinta kami sudah tidak sehat. Mungkinkah luka ini berubah menjadi rindu, jika kesetiaan dihianati jarak yang didustakan janji?
Laju kereta akan segera menebus rindu. Perjalananku masih membutuhkan waktu beberapa jam hingga sampai tujuan. Tertulis di tiket, aku akan sampai di Stasiun Senen pukul 05.00 Wib.
Tiba-tiba gerimis tipis rinai perlahan membasahi jendela kereta kelas ekonomi. Aku masih memandang dengan mata penuh bayangan tentang dirinya. Aduh, betapa bahagianya ia jikalau mampu menikmati perjalanan sembari menatap hujan bersamaku. Pasti ia tahu bahwa aku sedang mengamati-melihat senyum rekahnya, mendengar lantunan senandung harapnya. Biasanya ia selalu berdoa—mengharap segala keinginan, keselamatan serta kesehatan kepada Tuhan ketika hujan.
"Tuhan akan mendengar doamu, Sabrina. Berdoalah, selagi hujan belum reda" ucapnya.
Ia menyatukan kedua telapak tangan, sambil terpejam dan merapal doa. Aku mencoba mengaburkan ingatan soal itu. Semakin aku mengingat kenangan dengannya, semakin dahsyat juga nyeri dada. Aku masih menikmati perjalanan. Setelah perpisahan itu—perihal kepergiannya bekerja di pabrik parfum ibadah, ingatanku tentangnya mendadak lenyap. Ah, terlalu banyak kenangan bersamanya sampai sulit menghapus satu persatu. Tentu aku harus mampu meski pelan-pelan akan berlalu. Iya terpaksa menghapus karena ia tak pernah datang. Tidak kunjung pulang ketika aku mengharapkan. Hanya setahun sekali ketika lebaran Idul Fitri. Terkadang kami saling berdiam dan menghindari pertemuan ketika deruan suara kereta sudah mendekati stasiun penantian. Bagaimana kita mampu menyatukan rindu, jika pertemuan selalu membawa kesunyian dan saling diam?
Aku takut terjerumus di dalam neraka dan dikatakan istri yang membangkang, penghianat, kafir atau bedebah. Meski ia tidak pernah pulang, aku tetap memberi kabar manis untuknya; tentang anak kami ketika hendak makan sudah mampu mengucap bismillahirrahmanirrahim secara perlahan meskipun masih terbata-bata, mampu mengucap Alhamdulillah ketika bersendawa, tentang anak kami yang mampu menanyakan keberadaan bapaknya.
Aku selalu bilang bahwa …bapakmu akan segera kembali, percayalah... Namun ia belum terlalu mengerti, maka ia hanya membalas dengan senyuman yang manis. Sementara aku selalu mengeluarkan air mata ketika ia menanyakan keberadaan bapaknya.
Sudah sampai Stasiun Tegal. Kereta berhenti sejenak, menunggu dan mengangkut penumpang dengan tujuan yang sama atau justru berbeda. Tiba-tiba perempuan berparas cantik dengan rambut yang diikat manis duduk di depanku. Ia memakai jaket tebal berenda. Ia menatapku dengan senyuman yang manis. Bibirnya mungil, dengan polesan lipstik warna merah muda. Aku menerka lipstik itu seharga 125 ribu. Iya, itu mirip sekali dengan warna lipstik temanku. Ah…barangkali aku salah mengira bahwa itu tidak sama, lebih murah, atau justru lebih mahal dari yang kuterka.
"Kau sendirian?" kata perempuan yang duduk di hadapanku.
"Iya" jawabku sekenaknya.
"Mau kemana?"
"Ke Jakarta. Kau?"
"Ke Cirebon. Hati-hati, sedang banyak kerusuhan di Jakarta.orang jahat menyebar di mana-mana!"
"Aku tahu. Sudah kupikirkan sebelum berangkat"
"Lantas? Apa yang hendak kau cari di sana?"
Aku diam, masih menikmati hujan. Hujan kali ini turun bersama daun-daun kering di sepanjang tepi rel dengan jarak satu meteran. Sepanjang jalan yang menyimpan kegetiran yang tidak berkesudahan.
"Ke Jakarta menemui siapa?"
"Suamiku"
"Kerja?"
"Iya"
"Kerja apa?
Lama-lama aku menjadi malas dengan orang yang sok kenal, membuka-buka pertanyaan dalam suasana kalut seperti ini. Aku hanya tersenyum kecut. Perempuan itu terdiam kemudian mengeluarkan gadget. Mungkin ia melihat dari tatapan mata bahwa aku malas menanggapinya. Biar saja, aku tidak peduli. Tak lama kemudian perempuan itu turun. Sudah sejam berlalu kereta melaju menanggalkan bunyi lenking di Stasiun Cirebon.

***

            Aku telah sampai di Jakarta tepat waktu; sesuai yang tertulis di lembar tiket. Telah sampailah penukaran lelah menjadi rindu yang akan tuntas. Aku bergegas menemui suami. Kami sudah bersepakat bahwa pertemuan menebus rindu kali itu akan dirayakan di sebuah kedai kopi dekat atrium bus bersubsidi. Jantungku mendadak berdebar. Hatiku lega, berbunga seperti bunga tulip yang mewarnai kota. Betapa terkejutnya aku ketika turun dari bus itu. Kedai itu masih tertutup rapat. Aku bingung dengan suamiku. Mengapa ia tidak lebih dulu menungguku? Bahkan ia belum muncul menemuiku. Mengapa harus aku yang lebih dulu menunggu? Bukankah ia yang seharusnya menjemputku atau sekadar menunggu lebih dulu sebagai bukti bahwa ia juga akan menukar rindu? Ah mugkin suamiku terlalu sibuk dengan pekerjaannya, atau ia sedang mempersiapkan pertemuan yang mengejutkan. Aku hanya melihat perempuan duduk di bangku depan kedai sendirian.
Ia telah datang. Aku melihat senyumnya dari kejauhan melengkungkan kehangatan. Mengapa ia memilih pertemuan di kedai kopi? Apakah kedai itu menyediakan kopi kental pekat sepahit kenanganku?
"Sabrina, maafkan aku. Aku tidak bisa lama" ia mengecupku.
"Mengapa?"
Ia menggenggam tanganku. Memelukku sekuat biasanya. Tiba-tiba mataku mencairkan air mata membasahi pipi. Ia menyapu air mataku. Menatap wajahku dalam-dalam.
"Kau tampak cantik, Sayang" ucapnya.
Aku tersenyum. Ia mengalihkan pembicaraan. Aku menatap wajahnya yang semakin berbeda. Brewok dan kumis yang semakin tebal. Ia mengenakan jubah hitam dan celana panjang di atas mata kaki, serta kepalanya yang diikat kain sorban warna putih. Aku menatap matanya yang sayu. Wajah yang penuh dengan lipatan-lipatan masalah. Apa yang ia pikirkan? Apa yang ia derita sehingga ketampanannya tertutupi lipatan wajah?
"Aku merindukanmu!" ucapku nyaris berbisik.
"Iya aku paham soal itu. Begitu pula diriku yang merindukanmu dari tahun-tahun yang lalu. Mengapa kau tak mengajak anak kita?"
"Aku takut ia sakit. Perjalanan sangat jauh. Biarlah kelak nanti kuceritakan bahwa aku usai menemui bapaknya yang perkasa. Biarlah ia bersama ibu menunggu kabar baik dari Jakarta. Kabar baik darimu"
"Iya. Sekarang pulanglah, kembalilah. Jika tugas ini usai, secepat mungkin aku akan menyusul pulang. Hidup bahagia bersama kalian. Sampai kapanpun"
Ia pergi setelah mengecup keningku. Pergi tergesah dengan memberikan aku segepok uang. Aku ingat betul, ketergesaannya seperti pertamakali kami berpisah sebelum ia memutuskan hendak merantau ke Jakarta sebagai pelebur bunga. Aku masih memandangi langkahnya. Memandang dari kejauhan bahwa ia telah menghampiri perempuan bercadar yang duduk di bangku halaman kedai yang masih tertutup. Seperti mengomat-kamitkan menyuruh perempuan itu pulang. Ah tidak mungkin. Aku selalu percaya soal kesetiaan.
Perempuan itu pergi meninggalkan suamiku. Siapakah perempuan itu? Ah mungkin partner kerja, atau suamiku sekadar membuat janji untuk menawarkan parfum. Aku tak menghiraukan. Aku percaya soal kesetiaan.
Aku pulang dengan hati lapang. Sementara suamiku justru duduk di depan kedai kopi. Ia meletakan tas ransel warna hitam di atas meja. Entah menunggu siapa lagi. Entah apa yang dinanti. Mungkin ia akan menawarkan beberapa parfum kepada pengunjung kedai kopi.
Akan kuceritakan kepada anakku, bahwa bapaknya  yang tangguh sangat sayang dan peduli kepada anak dan istri. Bapaknya yang tak akan pernah kembali sampai kapanpun. Lebur dengan reruntuhan kedai kopi.

Gintung, 12 Februari 2018

Aksan Taqwin Embe adalah Guru Bahasa Indonesia di Pondok Pesantren Daar el-Qolam TTangerang. Ia termasuk 15 Emerging Writers Indonesian yang diundang dalam perhelatan internasional Ubud Writers and Readers Festival 2017. Buku kumpulan cerpennya bertajuk Gadis Pingitan. Selain mengajar dan menulis, ia saat ini sibuk mendidik santri dalam seni peran (teater dan film), musikalisasi puisi dan prosa fiksi  di Pondok Pesantren Daar el-Qolam Program Excellent Class Tangerang.

Feb 10
Ujian Seleksi Calon Santri Baru Pondok Pesantren Daar el Qolam

Pendaftaran calon santri baru pondok Pesantren Daar el Qolam mulai di buka sejak hari kamis, tanggal 1 Februari 2018. Alhamdulillah kepercayaan masyarakat terhadap Pondok Pesantren Daar el Qolam sangat besar. Hal ini terlihat dari banyaknya calon wali santri yang datang ke pesantren untuk mendaftarkan dan mempercayakan pendidikan putra-putri mereka.

IMG-20180212-WA0000.jpg

Hari ini (Sabtu, 10 februari 2018) diadakan tes seleksi masuk bagi calon santri baru Pondok Pesantren Daar el Qolam yang diikuti oleh calon santri yang telah mendaftarkan diri pada hari sebelumnya.

untuk informasi lebih lanjut tentang informasi pendaftaran santri baru melalui : daarelqolam.ac.id

Feb 10
Uji Coba Ujian Nasional SMP Daar el Qolam

20180210_073624.jpg

Ujicoba Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kabupaten Tangerang di SMP pondok pesantren Daar el Qolam dilaksanakan hari sabtu (10/2/2018) dan minggu (11/2/2018), yang diikuti oleh seluruh siswa kelas IX SMP Daar el Qolam.


Pelaksanaan uji coba UN ini diharapkan dapat memberikan persiapan yang lebih baik bagi para siswa dalam menghadapi UNBK nantinya, sehingga memperoleh hasil yang lebih baik.

Materi pelajaran yang di ujicaba UN kan yaitu:

1. Bahasa Indonesia

2. Matematika

3. Bahasa Inggris

4. IPA

Semoga para siswa mendapatkan kemudahan dalam belajar dan memperoleh hasil belajar yang lebih baik.

Feb 07
Simulasi UNBK SMA Daar el Qolam

Pelasanaan kagiatan Simulai UNBK SMA di SMA Pondok Pesantren Daar el Qolam dilaksanakan mulai hari ini (Rabu; 7 Februari 2018) sampai hari Kamis (7/2/2018).

720180207_071643.jpg

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa SMA Pondok Pesantren Daar el Qolam. Dengan menggunakan Laptop masing-masing siswa dan didukung sarana dan prasarana sekolah yang dmendukung, pelaksanaan UNBK diharapkan lebih baik dari tahun sebelumnya dan tidak menemui hambatan yang mengganggu.​

1 - 5Next