Jan 06
Pembelajaran Konsep Kemagnetan dengan Model Project Based Learning di SMP Pondok Pesantren Daar el Qolam

Pembelajaran dapat menimbulkan dampak yang signifikan terhadap pemahaman konseptual peserta didik jika konteks yang digunakan dikelola dengan baik (Bao dkk, 2002). Salah satu kriteria dari pembelajaran berbasis proyek adalah fokus pada masalah/pertanyaan yang kontekstual (Kemdikbud, 2014). Contoh permasalahan yang kontekstual misalnya keterbatasan energi listrik dan polusi udara akibat penggunaan bahan bakar posil. Produk yang dapat dijadikan solusi untuk permasalahan ini yang memanfaatkan konsep kemagnetan dan dapat diproyekkan pada jenjang SMP misalnya motor listrik sederhana dan generator listrik sederhana.

20190102_093221.jpg

Pembelajaran proyek harus mampu memfasilitasi terjalinnya hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang mendasarinya (Kemdikbud, 2014). Dengan kata lain, menghasilkan produk tidak serta merta menjadikan pembelajaran tergolong PjBL. Proses pembuatan motor listrik dan generator listrik harus dapat menggiring siswa untuk mencari informasi terkait konsep-konsep kemagnetan yang berkaitan dengan produk tersebut. Oleh karena itu guru harus lebih awal menentukan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan standar yang menjadi fokus dari pembelajaran termasuk target pembelajaran dan penilaian (Buck Institute for Education, 2015). Konsep-konsep yang harus digali oleh siswa dalam proses pembuatan motor listrik dan generator listrik adalah sifat-sifat magnet, konsep medan magnet, medan magnet di sekitar arus listrik, electromagnet dan induksi electromagnet.

PjBL mengutamakan kemandirian peserta didik misalnya dalam memilih jenis proyek, menentukan waktu kerja, memilih sumber dan cara yang digunakan dalam menggali informasi (Kemdikbud, 2014). Kebebasan seperti ini akan berpengaruh pada perkembangan kreativitas mereka (Winarto dkk, 2015). Sebagai contoh dalam upaya memahami konsepkonsep kemagnetan yang akan diterapkan dalam proyeknya, siswa dapat melakukan penyelidikan melalui eksperimen, mencari sumber di internet, melakukan diskusi, dan sebagainya. Kebebasan yang sama juga termasuk dalam mempresentasikan hasil diskusi terkait konsep yang telah mereka peroleh.

Monitoring yang tepat menjadikan proyek yang dilakukan tidak sebatas menghasilkan produk. Proyek yang efektif tetap fokus untuk membelajarkan pengetahuan dan keterampilan yang spesifik dan penting (Buck Institute for Education, 2015). Selama proyek, guru akan terus memantau pekerjaan siswa, memberikan informasi secara bertahap pada saat yang tepat sesuai perkembangan proyek, memastikan konsep kemagnetan yang diperoleh siswa sudah benar, memberi refleksi bagaimana konsep kemagnetan tersebut mereka terapkan dalam pembuatan motor listrik dan generator listrik, hingga memfasilitasi presentasi produk baik di kelas atau di luar kelas (Kemdikbud, 2014).

 

Sumber pustaka

Bao, L., Hogg, K., Zollman, D. 2001. Model Analysis of fine structures of student model: An example with Newton’s third Law. American Journal Physics, 70 (7): 766-778..

Buck Institute for Education. 2015. Gold Standard PBL: Project Based Teaching Practices. (Online), http://www.bie.org. diakses 20 Oktober 2016.

Kemdikbud. 2014. Buku Guru Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Winarto, A., Sutikno., Masturi. 2015. Pengaruh Induksi Elektromagnetik terhadap Perkembangan Kreativitas Siswa. Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) SNF 2015, 4: 13-18. (Online), (http://snf-unj.ac.id/kumpulanposiding/snf2015/) diakses 30 Desember 2018.

Comments

There are no comments for this post.